Agar Vitamin C pada Cabai Merah dan Cabai Putih tetap Terjaga

Cara mengolah pangan yang kaya antioksidan

Pada umumnya makanan dimasak dengan cara dikukus, digoreng, dipanggang, dibakar, ditumis, direbus, dan poaching. Cara memasak akan berpengaruh terhadap kadar antioksidannya. Penting bagi kita untuk terampil dalam mengolah makanan. Selain enak, kita juga harus mempertahankan kandungan nutrisi makanan yang kita konsumsi. Yaitu memasak bahan pangan dengan teknik memasak yang tepat (Silvia dkk., 2016).

Antioksidan pada bahan pangan dapat dipertahankan dengan cara memasak ditumis, direbus, dikukus, dan dipanggang. Cara memasak terbaik adalah merebusnya dengan api besar dan waktu singkat. Meskipun memasak dapat mengurangi kadar antioksidannya. Namun, cara ini dapat mempertahankan kandungan antioksidan pada bahan pangan (Mulyatiningsih, 2007 dalam Silvia dkk., 2016).

Demikian, semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat mawnulis. Jangan lupa untuk selalu mengonsumsi cabai dengan cara yang sehat. Perhatikan cara menyimpan, kemasan, dan cara mengolah cabai agar kesegaran dan kandungan vitamin-Cnya terjaga. Jangan lupa untuk memilih cabai yang segar dan mengonsumsinya secukupnya saja.

Cabai adalah salah satu pangan lokal Indonesia yang dapat meningkatkan kebugaran dan produktivitas kita. Selain cabai, masih banyak pangan lokal lainnya yang juga bermanfaat untuk kita. Pangan lokal erat kaitannya dengan kebutuhan primer/ pokok dan sekunder/ kuliner/ wisata kuliner yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi kita. Pangan lokal berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan kita.

Merdeka itu adalah mandiri pangan. Indonesia harus mandiri pangan demi kesejahteraan kita semua! Bantu petani kita dengan menggunakan produk petani kita, pangan lokal kita! Merdeka!

Ditulis oleh: Isnaillaila paramasari (Mawnulis.com)

Daftar Pustaka:

Pedoman Peringatan HUT Ke-75 Kemerdekaan RI Tahun 2020. 2020. (https://www.jogloabang.com/komunitas/pedoman-peringatan-hut-75-kemerdekaan-ri-2020, diakses 15 Agustus 2020).

Rachmawati, R., Made Ria, D., dan Ni Luh, S. 2009. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Kandungan Vitamin C pada Cabai Rawit Putih (Capsicum frustetescens). Jurnal Biologi. Vol. 13(2): 36-40.

Ramdani, H., Reki, W., dan M. Agus, F. 2018. Penambahan Natrium Metabisulfit (Na2S2O5) terhadap Vitamin C dan Warna pada Proses Pengeringan Cabai Merah (Capsicum annuum L.) dengan Tunnel Dehydrator. Jurnal Agronida. Vol 4(2): 88-97.

Silvia, D., Kezia, K., Stefanny, A. H., Vanessa, A., dan Yunita, S. 2016. Pengumpulan Data Base Sumber Antioksidan Alami Alternatif Berbasis Pangan Lokal di Indonesia. Surya Octagon Interdisciplinary Journal of Technology. Vol. 1(2): 181-198.

Sine, H. M. C. 2013. Ketahanan Kadar Vitamin C dan Kadar Air pada Cabai Merah Besar (Capsicum annuum L.) dengan Berbagai Jenis Kemasan. Partner. Vol. 20 (2): 165-171.

Wulandari, S., Yusnida, B., dan Kartini, D. T. 2012. Pengaruh Jenis Bahan Pengemas dan Lama Penyimpanan terhadap Kadar Vitamin C dan Susut Berat Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.). Jurnal Biogenesis. Vol. 8(2): 23-30.

2 thoughts on “Agar Vitamin C pada Cabai Merah dan Cabai Putih tetap Terjaga”

Leave a Comment

en_USEnglish
id_IDIndonesian en_USEnglish
error: Maaf Konten Bersifat Original, Hanya untuk Dibaca, Terimakasih !!