Manfaat Jahe sebagai Terapi Kesehatan dan Imun Booster

Jahe mengandung senyawa antioksidan seperti 6-shogaol dan 6-gingerol yang memiliki manfaat sebagai terapi kesehatan. Aktivitas antioksidannya dapat mencegah peroksidasi lemak dan mencegah terbentuknya ROS (radikal bebas). Senyawa 6-shogaol, 6-gingerol, dan zingerone dapat mencegah peradangan usus besar atau kolon. Gingerol dan shogaol juga memiliki aktivitas anti kanker yang sangat kuat (Mao dkk., 2019).

Sahabat mawnulis, senyawa antioksidan sangat penting untuk kesehatan. Senyawa ini dapat mencegah terbentuknya radikal bebas di dalam tubuh kita. Banyaknya polusi udara, stres, dan makanan yang mengandung zat kimia berbahaya bisa memicu terbentuknya radikal bebas dalam tubuh.

Sebelumnya mawnulis telah mengajak sahabat mengenali khasiat habbatussauda, zaitun, kurma, dan madu untuk kesehatan. Mereka semua juga mengandung senyawa antioksidan yang penting untuk tubuh. Namun, kali ini mawnulis ingin mencoba manambah wawasan lagi tentang khasiat jahe untuk kesehatan.

Penggunaan jahe adalah sebagai bahan dasar minuman herbal atau jamu. Jamu yang menggunakan jahe misalnya wedang uwuh. Wedang uwuh terlahir di Yogyakarta, khususnya di Imogiri, Bantul. Wedang uwuh merupakan minuman kesukaan raja Mataram, yakni sejak zaman Sultan Agung (Gelgel dkk., 2017).

Wedang uwuh menggunakan jahe jenis jahe emprit. Ia memiliki senyawa aktif yang berperan sebagai antioksidan. Senyawa antioksidan pada jahe ini dapat membantu menangkal radikal bebas.

Manfaat alaminya untuk tubuh manusia sangat banyak. Ajaran Islam juga sangat dekat dengan budaya minuman yang dicampur dengan jahe. Jahe disebutkan di dalam Qur’an surah Al-Insan (76) ayat 17 sebagai berikut:

“Dan di dalam surga itu, mereka diberi minum secangkir (minuman anggur) yang campurannya adalah jahe Zanjabil” QS Al-Insan (76) ayat 17 (Shaikh, 2015).

Ia memiliki rasa pedas dan aroma tajam. Ia dapat digunakan sebagai minuman herbal yang dapat meningkatkan kebugaran tubuh. Ia juga dapat digunakan sebagai bahan masakan untuk memperkuat rasa.

Indonesia merupakan salah satu produsen jahe. Beberapa wilayah di Indonesia yang menjadi produsen jahe adalah Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Tarakan, dan Balikpapan (Lestari, 2006 dalam Pujilestari dan Nami, 2009).

Jenis-jenis jahe yang dibudidayakan di Indonesia

Nama ilmiahnya adalah Zingiber officinale (Pujilestari dan dan Nami, 2009). Ada tiga jenis jahe yang dibudidayakan dan dimanfaatkan di Indonesia. Pertama, jahe gajah atau jahe putih besar (Z. officinale  var. officinarum). Ia mempunyai rimpang besar dan berbuku, berwarna putih kekuningan, dan aromanya kurang tajam dengan kadar minyak atsiri 0.82-2.8%.

Kedua, Jahe putih kecil atau jahe emprit (Z. officinale var. amarum). Ia mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, berwarna putih kekuningan, dan aromanya tajam dengan kadar minyak atsiri 1.5-3.5%. Kemudian, yang ketiga adalah jahe merah (Z. officinale var. rubrum). Ia mempunyai rimpang kecil berlapis, berwarna jingga sampai merah, dan aromanya sangat tajam dengan kadar minyak atsiri 2.58-3.9% (Oktora dkk., 2007).

Senyawa aktif pada jahe antara lain:

  1. Fenolik. Senyawa fenoliknya adalah gingerol, shogaol, paradol, kuersetin, zingerone, gingerenone-A, dan 6-dehydrogingerdione. Gingerol merupakan senyawa polifenol yang memiliki konsentrasi paling tinggi dalam jahe segar (Mao dkk., 2019).
  2. Terpene. Senyawa-senyawa terpene yang ditemukan pada minyak esensialnya adalah β-bisabolene, α-curcumene, zingiberene, α-farnesene, dan β-sesquiphellandrene.
  3. Senyawa aromatik. Ia mengandung senyawa-senyawa aromatik yaitu zingiberol, zingiberan, α-β phellandren, methyl heptenon, cineol, citral, borneol, linalool, asetat, dan haprilat (Oktora dkk., 2007).
  4. Senyawa aktif lainnya. Ia mengandung asam organik yaitu asam malat dan asam oksalat. Jahe juga mengandung vitamin A, B, C (Oktora dkk., 2007), lemak, polisakarida, dan serat (Mao dkk., 2019).

Jahe bermanfaat untuk kesehatan

Jahe mengandung senyawa aktif dan senyawa aromatik yang dapat membantu memperlancar sirkulasi darah dan meningkatkan aktivitas seksual. Ia juga dapat menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Kandungannya telah diteliti dapat membantu mengurangi gejala penyakit autoimun seperti alergi. Ia juga dapat mencegah penyakit kardiovaskuler karena memiliki efek anti-inflamasi (Shaikh, 2015).

Ia juga tidak memiliki efek samping jika dikonsumsi dengan cara yang benar. Ia dipercaya dapat mengobati berbagai gangguan kesehatan seperti meredakan nyeri karena haid, mengurangi mual karena kehamilan dan masa kemoterapi, membantu kinerja pencernaan, mengobati flu, dan melindungi tulang (Shaikh, 2015).

Sumber antioksidan pada Jahe

Senyawa aktif polifenolnya berperan terhadap aktivitas antioksidan. Senyawa antioksidannya seperti 6-shogaol, 6-gingerol, dan oleoresin dapat mencegah peroksidasi lemak dan mencegah terbentuknya ROS (radikal bebas). Ekstraknya dapat meningkatkan kadar antioksidan pada tubuh. Namun, ternyata jahe yang kering mengandung senyawa fenolik yang lebih tinggi dibandingkan jahe segar (Mao dkk., 2019).

Ekstrak jahe membantu mencegah peradangan pada kolon (kolitis ulseratif)

Ekstraknya mengandung senyawa aktif yang memiliki aktivitas anti-inflamasi. Mereka adalah 6-shogaol, 6-gingerol, zingerone yang dapat mencegah peradangan usus besar atau kolon (Mao dkk., 2019).

Aktivitas anti-mikrobia, anti-jamur, dan anti-virus pada jahe

Senyawa aktifnya memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri, jamur, dan virus patogen seperti staphylococcus aureus (Rampogu dkk., 2018 dalam Mao dkk., 2019), aspergilus flavus (Nerilo dkk., 2016 dalam Mao dkk., 2019), dan virus hepatitis C (Abdel-Moneim dkk., 2013 dalam Mao dkk., 2019).

Tingginya senyawa aktif polifenol pada jahe

Kandungan polifenol seperti gingerol dan shogaolnya memiliki aktivitas anti-kanker yang sangat kuat. Beberapa penyakit kanker yang dapat diterapi menggunakan ekstrak jahe adalah kanker kolon, kanker prostat, kanker payudara, kanker servik, dan kanker pankreas (Mao dkk., 2019).

Senyawa aktif jahe mencegah penyakit neurodegeneratif

Tiga senyawa yang paling aktif sebagai antioksidan dan anti-inflamasi adalah shogaol, gingerol, dan 6-dehydrogingerdione. Ketiganya berkontribusi dalam melindungi sistem syaraf pusat (Mao dkk., 2019).

Efek anti-ulserogenik jahe

Gejala penyakit lambung seperti mual, muntah, nyeri ulu hati, cepat kenyang, dan kembung dapat dicegah dengan mengonsumsi jahe. Senyawa aktif yang berperan sebagai anti-ulserogenik adalah gingerol, zingerone, flavonoid, aseton, metanol, dan minyak atsiri (Pairul dkk., 2017).

Efek anti-ulserogeniknya merupakan kemampuannya untuk menurunkan kadar asam lambung, meningkatkan prostaglandin, dan mencegah iritasi mukosa lambung (Pairul dkk., 2017).

Manfaat jahe lainnya untuk kesehatan:

  1. Menurunkan kadar kolesterol jahat darah dan mencegah hipertensi.
  2. Membantu mencegah obesitas. Gingerenone, 6-shogaol, dan 6-gingerol memiliki aktivitas anti-obesitas.
  3. Mencegah diabetes dengan membantu kinerja insulin di dalam tubuh.
  4. Mengobati mual dan muntah karena efek samping kemoterapi.
  5. Mengobati gangguan pernafasan seperti asma. Kandungan 6-gingerol, 8-gingerol, 6-shogaol, citral, dan eucalyptolnya dapat membantu menyembuhkan penyakit pernafasan seperti alergi dan asma.
  6. Membantu kinerja liver atau hati. Kandungan aktifnya dapat meningkatkan konsentrasi antioksidan dalam hati dan menurunkan kadar lemak dalam hati (Mao dkk., 2019).

Senyawa aktif paling utama pada jahe

Senyawa aktif utamanya ada empat yaitu 6-gingerol, 6-shogaol, zingerone, dan α-zingiberene. Senyawa aktif gingerol, shogaol, dan zingeron paling mewakili rasa dan aroma (Oktora dkk., 2007). Shogaol dan dan gingerol adalah senyawa non-aromatik yang memberikan rasa pedas (Widiyanti dan Ratna, 2009 dalam Gelgel, 2016).

Zat aktif 6-shogaol dan 6-gingerol memiliki aktivitas antioksidan yang dapat mencegah peroksidasi lemak dan mencegah terbentuknya ROS. Senyawa 6-shogaol, 6-gingerol,dan zingerone dapat mencegah peradangan usus besar atau kolon. Gingerol dan shogaol pada jahe juga memiliki aktivitas anti-kanker yang sangat kuat (Mao dkk., 2019).

Senyawa antioksidan pada tiga jenis jahe

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa jahe emprit, jahe gajah, dan jahe merah mengandung oleoresin (4-7.5%) yang terdiri dari senyawa-senyawa fenolat (antioksidan) (Nakatani 1992 dalam Gelgel dkk., 2016).

Jenis jahe merah memiliki keunggulan berupa kandungan total fenolik yang sangat tinggi. Dari tiga jenis jahe, jahe merah mengandung total fenolik tertinggi kemudian disusul oleh jahe emprit. Jahe gajah memiliki total fenolik yang paling rendah dibandingkan dua jenis lainnya. Namun, jahe gajah juga memiliki total fenolik cukup tinggi.

Ketiga jenis jahe tersebut memiliki aktivitas antioksidan yang berkhasiat untuk kesehatan (Oboh dkk., 2012 dalam Gelgel dkk., 2016). Semakin tinggi kandungan fenolik maka rasa pedas jahe juga semakin kuat. Jahe merah memiliki tingkat antioksidan dan kepedasan yang paling tinggi dibandingkan jahe emprit dan jahe gajah.

Saran konsumsi jahe

Simplisia atau Jahe kering juga bagus diminum bahkan aktivitas antioksidannya lebih tinggi dibandingkan jahe segar. Selain itu, jahe kering juga lebih praktis dan mudah disimpan.

Namun, jahe tidak baik jika dikonsumsi secara berlebih terutama bagi kita yang memiliki perut sensitif atau lambung bermasalah dan bagi ibu hamil. Jahe juga sebaiknya dikonsumsi dalam kondisi perut tidak kosong agar tidak menyebabkan iritasi pada lambung atau masalah pencernaan lainnya.

Demikian, manfaat antioksidan pada jahe sebagai terapi kesehatan banyak sekali ya sahabat mawnulis. Alhamdulillah, ia juga mudah ditemukan di pasar baik di pasar tradisional maupun pasar modern atau supermarket. Jangan lupa untuk memilih jahe sesuai kesukaan dan kebutuhan sahabat yah. Jahe merah rasanya sangat pedas. Jahe emprit memiliki tingkat kepedasan yang sedang. Sedangkan jahe gajah tidak begitu pedas.

Ditulis oleh: Isnaillaila Paramasari (Mawnulis.com)

Daftar Pustaka:

Danthiswari Gelgel, K., Ni Made, Y., dan Dewa Gede, M. P. 2017. Kajian Pengaruh Jenis Jahe (Zingiber officinale Rosc.) dan Waktu Pengeringan Daun terhadap Kapasitas Antioksidan serta Sensoris Wedang Uwuh. (https://onesearch.id/Record/IOS1501.article-27498, diakses 5 Juli 2020).

Mao, Q.-Q.; Xu, X.-Y.; Cao, S.-Y.; Gan, R.-Y.; Corke, H.; Beta, T.; Li, H.-B. 2019. Bioactive Compounds and Bioactivities of Ginger (Zingiber officinale Roscoe). Foods.  Vol. 8(6): 1-21.

Oktora, R. D., Aylianawati, dan Yohanes, S. 2007. Ekstraksi Oleoresin dari Jahe. Widya Teknik. Vol. 6(2): 131-141.

Pairul, P. P. B., Susianti, dan Syahrul, H. N. 2017. Jahe (Zingiber officinale) sebagai Anti Ulserogenik. Medula. Vol. 7(5): 42-46.

Pujilestari, T., dan Nami, L. 2009. Analisis Senyawa Kimia pada Tiga Jenis Jahe dan Penggunaannya untuk Keperluan Industri. Jurnal Riset Teknologi Industri. Vol. 3(6): 32-38.

Shaikh, M. 2015. Quranic Food: Diet Sehat dengan Makanan dan Minuman dalam Al-Qur’an. Jakarta: Republika Penerbit.

2 pemikiran pada “Manfaat Jahe sebagai Terapi Kesehatan dan Imun Booster”

    • Oh iya.. itu jahe yang dipanen ketika masih muda Pak Redika.. setelah dibikin acar rasanya jadi asam manis dan pedas. Kemudian teksturnya cruncy.. jadi segar sekali pak.. Terima kasih Pak Redika atas kunjungannya..

      Balas

Tinggalkan komentar